بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kamis, 25 Juli 2013

Puasa dan Esensi Takwa



Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar dan haus belaka (HR Muslim).
Takwa, sebagaimana kita ketahui, adalah ‘harapan’ yang Allah SWT kehendaki dari seorang Mukmin setelah menunaikan shaum atau puasa selama Ramadhan. Karena itu, boleh dikatakan takwa sejatinya adalah ‘buah’ dari shaum atau puasa yang dilakukan seorang Mukmin. Persoalannya, sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad saw., “Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar dan haus belaka.” (HR Muslim). Mengapa demikian? Itulah sejatinya pertanyaan yang harus selalu menjadi bahan renungan bagi setiap Mukmin. Di sini pula setiap Mukmin sejatinya memahami kembali esensi ketakwaan, dengan harapan bisa benar-benar menjadi orang yang bertakwa.
Apa itu takwa atau siapa sesungguhnya orang bertakwa itu? Saat menafsirkan al-Quran surat al-Baqarah ayat 1-5, Imam Ali ash-Shabuni menyatakan. “Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang takut terhadap murka Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.”
Beliau pun mengutip pernyataan Ibnu ‘Abbas ra. yang menyatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT) sembari menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.”
Adapun menurut Imam Hasan al-Bashri, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap apa saja yang telah Allah SWT larang atas diri mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas diri mereka.”  (Lihat: Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, I/26).
Pengertian takwa inilah yang sering dikutip oleh para ulama dalam sejumlah kitab mereka. Dengan demikian, jika memang takwa adalah buah dari shaum Ramadhan yang dilakukan oleh setiap Mukmin, idealnya usai Ramadhan, setiap Mukmin senantiasa takut terhadap murka Allah SWT dengan cara selalu berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, selalu berupaya menjauhi kesyirikan, senantiasa menjalankan ketaatan, memiliki rasa takut untuk melakukan perkara-perkara yang haram dan senantiasa berupaya menjalankan semua kewajiban yang telah Allah SWT bebankan kepada dirinya.
Menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya tentu bermakna melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya baik terkait ‘aqidah dan ubudiah; makanan, minuman, pakaian dan akhlak; muamalah (ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya, dll); maupun ‘uqubat (sanksi hukum) seperti hudud, jinayat, ta’zir maupun mukhalafat. Bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan shalat, melaksanakan shaum Ramadhan atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah; sementara ia biasa memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat dan enggan terikat dengan syariah Islam di luar yang terkait dengan ibadah ritual.
Selalu berupaya menjauhi kesyirikan maknanya adalah tidak menyekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya baik dalam konteks ‘aqidah maupun ibadah; termasuk tidak meyakini sekaligus menjalankan hukum apapun  selain hukum-Nya, karena hal itu pun bisa dianggap sebagai bentuk kesyirikan. Allah SWT berfirman (yang artinya): Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (TQS at-Taubah [9]: 31).
Terkait ayat ini, ada sebuah peristiwa menarik. Diriwayatkan, bahwa saat Baginda Rasulullah saw. membaca ayat ini, kebetulan datanglah Adi bin Hatim kepada beliau dengan maksud hendak masuk Islam. Saat Adi bin Hatim—yang ketika itu masih beragama Nasrani—mendengar ayat tersebut, ia kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kami (orang-orang Nasrani, pen.) tidak pernah menyembah para pendeta kami.” Akan tetapi, Baginda Nabi saw. membantah pernyataan Adi bin Hatim sembari bertanya dengan pertanyaan retoris, “Bukankah  para pendeta kalian biasa menghalalkan apa yang telah Allah hatramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, lalu kalian pun menaatinya?” Jawab Adi bin Hatim, “Benar, wahai Rasulullah.” Beliau tegas menyatakan, “Itulah bentuk penyembahan kalian terhadap para pendeta kalian.” (Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, X/210; al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, IV/39)
Saat ini, posisi para pendeta dan para rahib itu telah digantikan oleh para penguasa maupun wakil rakyat dalam sistem demokrasi. Pasalnya, merekalah saat ini yang biasa membuat hukum yang banyak menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah haramkan. Tentu saja, sebagai wujud dari ketakwaan kita, kita dilarang menaati apapun produk hukum buatan mereka yang nyata-nyata  bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT.
Di sinilah pentingnya kita senantiasa hanya menaati Allah SWT dan Rasul-Nya dengan hanya menjalankan dan menaati syariah-Nya, seraya membuang hukum-hukum selain hukum-hukum-Nya. Itulah esensi ketakwaan kita, yang sejatinya kita petik sebagai buah dari shaum kita selama Ramadhan.
Wa ma tawfiqi illa billah

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/25/puasa-dan-esensi-takwa/
 

Selasa, 23 Juli 2013

Shalat Malam: Tradisi Shalafush-Shalih

 

Jika aku banyak tidur pada malam hari, berarti aku menyia-nyiakan diriku. Jika aku tidur pada siang hari, berarti aku menelantarkan rakyatku (Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.).
Pada bulan Ramadhan shalat malam (shalat tarawih) adalah salah satu ibadah yang menonjol dilakukan oleh kaum Muslim di samping shaum, membaca al-Quran, berzikir dsb. Sejatinya, di luar Ramadhan, shalat malam (shalat tahajud) juga biasa dilakukan oleh setiap Muslim, apalagi aktivis dakwah. Betapa pentingnya shalat malam bagi seorang Muslim, Allah secara langsung memerintahkannya dalam al-Quran (TQS al-Isra’ [17]: 79). Betapa pentingnya shalat malam itu bagi para aktivis dakwah, Allah pun secara langsung memerintahkannya dalam al-Quran (TQS al-Muzammil [73]: 1-4).
Mengapa ada perintah seperti ini? Allah menjawabnya secara langsung:

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat (TQS al-Muzammil [73]: 5).

Artinya, Allah akan memberikan amanah yang sulit, beban yang berat serta perintah-perintah yang membutuhkan tekad kuat dan semangat tinggi. Itulah amanah yang ditolak langit dan bumi karena keduanya tidak mampu mengembannya. Lalu amanah itu dibebankan pada pundak manusia. Amanah itu adalah dakwah, amar makruf nahi mungkar dan jihad fi sabilillah.
Dalam pandangan Dr. Najih Ibrahim, shalat malam adalah “madrasah” paling agung, tempat seorang Muslim men-tarbiyah dirinya, berkenalan dengan Tuhannya serta memahami seluruh makna nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Shalat malam adalah “madrasah” untuk belajar khusyuk, tunduk, merendahkan diri serta bertobat kepada Allah Swt.
Menurut beliau, ketundukan kita pada malam hari adalah kunci kebesaran kita pada siang hari; sujud kita pada malam hari adalah jalan kemuliaan kita pada siang hari; kekhusyukan kita pada malam hari adalah senjata kemenangan kita atas musuh serta rahasia kesuksesan kita di jalan dakwah, amar makruf nahi mungkar dan jihad fi sabilillah.
Sulaiman al-Halbi mengerjakan shalat malam sebulan penuh di Masjid al-Azhar sebelum membunuh Cliber. Ketika mengerjakan shalat, ia berdoa kepada Allah dengan khusyuk, agar Dia memberinya kemudahan dalam membunuh musuh Allah itu. Ketika itu Sulaiman al-Halbi hanya memiliki satu pisau, tidak lebih. Allah Swt. memberinya kemudahan. Ia berhasil membunuh Cliber, Komandan Perang Prancis terkenal, yang kedudukannya sedikit di bawah Napoleon.
Shalahuddin al-Ayyubi, karena pemahamannya yang mendalam tentang Islam, menyadari bahwa shalat malam adalah salah satu kunci kemenangan kaum Muslim atas musuh. Karena itu, jika beliau berjalan melewati kemah anak buahnya pada malam hari dan tidak menjumpai seorang pun yang mengerjakan shalat malam, beliau segera membangunkan mereka dan memarahi mereka seraya berkata, “Saya khawatir, kita diserang musuh malam ini, dari kemah ini.”
Demikianlah Shalahuddin al-Ayyubi. Beliau menganggap tidak adanya shalat malam sebagai celah yang lebih berbahaya daripada celah pada benteng hingga  musuh bisa menyerang dari celah tersebut.
Sejak permulaan jihad hingga berjumpa dengan Allah Swt., Khalid bin Walid dan kawan-kawannya mengerjakan shalat malam berjam-jam dan membaca banyak ayat al-Quran di dalamnya. Ia menangis sehingga membuat yang lain juga menangis. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengan mereka saat itu berkomentar, “Khalid dan rekan-rekannya seperti para malaikat dalam wujud manusia.” Barangkali inilah, di samping sebab-sebab lain, salah satu kunci sukses jihad Khalid bin Walid.
Ada seorang ulama aktivis Islam yang tidak pernah meninggalkan shalat malam barang satu malam pun. Setiap malam ia mengerjakan shalat malam sebanyak sebelas rakaat dan meng-khatam-kan al-Quran. Ia meningkatkan frekuensi ibadahnya ini selama bulan Ramadhan. Padahal ia telah lanjut usia serta menderita diabetes dan beberapa penyakit lain. Namun, kaum muda tampak kelelahan jika shalat di belakangnya. Bahkan ada di antara mereka yang tidak mau lagi shalat di belakangnya. Itulah yang terjadi.
Seorang generasi salaf berkata, “Aku senang jika malam datang. Hidupku terasa nikmat karenanya dan mataku terhibur dengannya, karena aku dapat bermunajat kepada Zat yang aku sangat suka mengabdi dan tunduk di hadapan-Nya.”
Setiap aktivis Islam harus menyadari bahwa kekhusyukan dan ketundukannya kepada Allah pada malam hari akan  membuka pintu kesuksesannya di jalan dakwah. Shalat malam akan memberi kita spirit baru untuk beramal demi Islam dan bekal agung, yaitu tawakal kepada-Nya; juga memberi kita keberanian melawan musuh-musuh Islam. Shalat malam akan membuat hati kita kuat dan iman kita subur.
Sebagian orang mungkin berkata, “Saya sibuk menangani banyak agenda dakwah dan tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan shalat malam.”
Untuk mereka, Dr. Najih Ibrahim memberikan nasihat, “Shalat malam adalah salah satu amal demi Islam. Ia adalah salah satu sarana efektif dalam mewujudkan kesuksesan gerakan dakwah dan tegaknya Daulah Islam.”
Jika seluruh kader dakwah mengerjakan shalat malam secara rutin dalam seluruh keadaan—saat senang maupun susah; saat lapang maupun sibuk—insya Allah gerakan dakwah akan meraih sukses besar.
Setiap aktivis Islam hendaknya selalu mengingat perkataan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., “Jika aku banyak tidur pada malam hari, berarti aku menyia-nyiakan diriku. Jika aku tidur pada siang hari, berarti aku menelantarkan rakyatku.”
Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memang dikenal rajin mengerjakan shalat malam. Padahal sebagai pemimpin negara, kseibukannya sangat luar biasa. Begitu besarnya perhatian beliau terhadap shalat malam, banyak Sahabat ingin menirunya. Bahkan, setelah beliau meninggal, ada salah seorang Sahabat yang menikahi salah satu mantan istri beliau hanya sekadar ingin tahu sejauh mana shalat malamnya Umar bin al-Khaththab ra. agar ia bisa menirunya.
Penerusnya, Khalifah Utsman bin Affan ra., biasa meng-khatam-kan al-Quran dalam tempo satu malam. Itu beliau lakukan dalam shalat malamnya! Ini betul-betul terjadi sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis sahih.
Rasulullah saw. sendiri, yang super sibuk mengurusi umat beliau, berdakwah dan berjihad melawan musuh-musuh Islam sepanjang hidup Beliau serta mendidik para Sahabat dan umat Islam, tetap mengerjakan shalat malam sebelas  rakaat setiap malam. Wajarlah jika beliau, para Sahabat dan generasi salaf ash-shalih setelah mereka meraih kedudukan terpuji di dunia, juga tentu di akhirat kelak. Itu memang sudah menjadi janji Allah kepada mereka yang rajin menunaikan shalat malam (QS al-Isra’ [17]: 79).
Wamâ tawfîqi illâ billâh

Minggu, 21 Juli 2013

 
Allah telah menetapkan satu jalan untuk sampai pada pemerintahan dan penerapan Islam. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia Memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6] : 153).

Ketika Rasulullah saw ditawari kekuasaan dengan jalan yang tidak sesuai syariah, maka beliau bersabda: “Demi Allah, wahai paman! Sekiranya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di sebelah kiriku, dengan syarat aku harus meninggalkan urusan (agama Islam) ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkannya, atau aku binasa dalam mempertahankannya.”

Akan tetapi mereka telah meninggalkan jalan Tuhan mereka, dan sebaliknya mereka mengikuti jalan-jalan Barat sejengkal demi sejengal, dan sehasta demi sehasta. Bahkan mereka menjadikan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang melebihi sistem pemerintahan yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Sehingga menjadi keniscayaan bagi Allah untuk tidak menolong orang yang juga tidak menolong agama-Nya, meskipun ia shalat, puasa dan menyatakan diri sebagai seorang Muslim.

Dalam hal ini, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada saudara-saudara mereka di FIS, di Aljazair pada awal tahun sembilan puluhan abad yang lalu, ketika mereka berpikir bahwa sampainya mereka pada kekuasaan melalui permainan demokrasi akan mengokohkan kekuasaannya, namun militer yang loyal pada Barat dan mereka yang mematuhi setiap perintahnya, segera berbalik menunjukkan kebohongan demokrasi. Kemudian mereka menggulingkan FIS, melakukan pembantaian, penyiksaan dan pengusiran terhadap jutaan orang, dimana semua itu dilakukan untuk menjaga kepentingan Barat dan penjajahannya terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Dan itu pula yang dilakukan militer Mesir yang loyal pada Barat, mereka telah berbalik melawan boneka Barat juga, sebab tujuan yang karenanya ia buat telah habis.

Untuk itu, kami menyerukan kepada saudara-saudara kami di kelompok-kelompok Islamis agar membuang demokrasi dan sekulerisme, serta menyerukan kepada mereka untuk tidak menerima kecuali Khilafah ala minhajin nubuwah dengan nushrah (dukungan) dari ahlul quwah (pemilik kekuatan), guna mengembalikan sejarah perjalanan kaum Muslim yang pertama sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 10/7/2013.

Jumat, 19 Juli 2013

DEMI SEBELAH SAYAP NYAMUK
 
Bila saya menawarkan sebelah sayap nyamuk pada Anda, bersediakah Anda membelinya? Saya jual murah. Masih kurang? Saya jual dua-duanya, Anda dapat sepasang sayap. Bagaimana kalau dengan nyamuknya? Mau? Bagaimana kalau se-ons nyamuk, kembali, saya jual murah, cukup dengan dua ribu rupiah Anda mendapatkan 1 ons nyamuk.

Tidak. Saya tidak sedang gila, saya sedang mengingatkan kita semua, soal apa yang sudah, sedang dan kita cita-citakan dalam hidup kita di dunia. Entah mungkin Anda mengimpikan karir yang tertentu, CEO misalnya. Atau anda ingin memiliki perusahaan sendiri. Atau Anda memimpikan rumah yang asri dan nyaman seperti yang dimiliki Irjen Djoko Susilo lengkap dengan mobil mewahnya, dsb.

Saya ingatkan diri Anda dan diri saya yang acapkali liar, bahwa dunia dalam pandangan Allah ternyata tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk. Binatang nan kotor, penyebar penyakit dan menyebalkan itu adalah ‘bobot’ dunia bagi Allah SWT. Itulah yang dipesankan Rasulullah saw. untuk kita semua.

لَوْكاَنَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَناَحَ بَعُوْضَةٍ، ماَ سَقَى كاَفِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah punya nilai setara dengan sebelah sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum seorang kafir seteguk air pun.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 940).

Impian karir Anda, rumah idaman Anda, istri atau suami Anda yang rupawan, termasuk kendaraan mewah yang sudah Anda punyai atau sedang dalam impian, tidak lebih dari kualitas sebelah sayap nyamuk. Bayangkan, padahal untuk itu semua banyak effort yang sudah kita curahkan selama ini ternyata jatuh telak dalam deskripsi lisan Nabi kita yang mulia. Sebelah sayap nyamuk!

Hadits ini tidak bertujuan menjatuhkan mental kerja dan wirausaha kita, tapi sebagai sebuah marka dan rambu dalam kehidupan. Bahwa ada batas effort yang jangan dilewati karena bila berlebihan hasilnya sungguh tidak baik. Lagipula hasilnya sangat kecil dalam timbangan Allah.

Bukankah kalau kita mati itu semua tidak akan kita bawa ke alam baka? Kalau kita menghadap Allah kita pun tidak sambil mengendarai Ferari Spyder impian kita, atau sambil mengenakan jam tangan Rolex yang kita banggakan? Malah itu semua menjadi beban hisab di hadapan Allah?

Ada yang berkilah; kita perlu kaya raya untuk hidup makmur di dunia? Bukankah andai kita sakit maka membutuhkan uang untuk berobat? Rumah pun harus kita beli dengan uang? Bahkan beribadah pun harus dengan uang, seperti berhaji misalnya?

Oke, itu memang benar. Uang bisa membuat kita dirawat di rumah sakit, tapi bisakah uang membeli kesehatan dan panjang umur? Dengan uang kita bisa membeli rumah, tapi bisakah uang membeli rasa tenang dalam rumah? Dengan uang kita bisa menikah tapi bisakah uang membeli sakinah-mawaddah-wa rahmah? Dengan uang pula kita bisa beribadah haji, tapi bisakah uang membuat amal kita diterima oleh Allah? Bukankah bila tiada uang maka kita tidak wajib berhaji dan berzakat?

Sekarang marilah kita mengukur diri, bila kita mengerahkan effort yang begitu tinggi untuk ‘sebelah sayap nyamuk’ pernahkah kita mencurahkan effort yang sama untuk bangun di sepertiga malam terakhir setiap hari untuk bermunajat kepada Allah? Berusaha untuk shalat berjamaah setiap waktu di mesjid di manapun kita berada? Bila kita memimpikan memiliki rumah yang nyaman dan kendaraan yang bagus, pernahkah kita juga memimpikan menjadi juru dakwah yang bisa menerangi jalan gelap umat?

Saatnya kita down to earth, menyadari realita hidup sebenarnya yang serba sebentar dan cepat berlalu. Seperti firman Allah:
“(kehidupan dunia) seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. al-Hadid: 20).

Masya Allah, bila untuk ‘sebelah sayap nyamuk’ saja kita mau mengorbankan banyak hal dan mencurahkan pikiran serta tenaga, mengapa tidak untuk kehidupan yang lebih kekal dan membahagiakan di akhirat? Di dalam Jannah-Nya kelak? Mari sungkurkan diri di hadapan Allah, memohon ampunanNya, curahkan tenaga untuk kemuliaan agamaNya.
Ust. Iwan Januar

Nafâits Tsamarât: Jadikan Ramadhan Sebagai Bulan Kemenangan Kembali Dengan Mendirikan Negara Khilafah

 

Mengakhiri  penderitaan  mendalam yang menimpa umat Islam dari kaum kafir, tidak cukup hanya menghadap Allah dengan shalat dan puasa, namun wajib atas kalian di samping shalat dan puasa adalah aktivitas untuk menerapkan agama Allah SWT di muka bumi, dan menguatkan kontrol agama terhadap beragam cara hidup, dengan menegakkan negara Khilafah Islam. Dengan begitu, Ramadhan akan kembali diwarnai oleh kemenangan demi kemenangan.
Dan ingat, bahwa aktivitas untuk mengubah rezim-rezim korup dan rusak saat ini, dan aktivitas untuk menegakkan Khilafah, bukan masalah hidup atau mati saja, namun itu adalah kewajiban dari Allah SWT, sehingga berdiam dirinya kaum Muslim dari melaksanakan kewajiban ini, serta diamnya mereka terhadap kezaliman para penguasa, akan menjadikan situasi umat Islam semakin buruk di dunia ini. Sehingga berdiam dirinya mereka, serta diamnya mereka terhadap kemungkaran akan menjadikannya layak untuk mendapatkan azab Allah dan murka-Nya di akhirat. Telah terdapat hadits dari Rasulullah SAW yang bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
Sesungguhnya Allah Yang Maha  Perkasa lagi Maha Tinggi tidak akan menyiksa masyarakat secara umum akibat perbuatan orang tertentu, sehingga ia melihat kemungkaran di depan mereka. Sementara mereka mampu untuk mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Apabila mereka melakukan itu, maka Allah akan mengazab orang tertentu dan masyarakat umum.” (HR. Ahmad).
Wahai kaum Muslim, manfaatkan bulan Ramadhan yang diberkati ini, semoga Allah merahmati kalian. Menghadaplah kepada Allah SWT dengan mengintensifkan amal-amal shalih, dan berjuang melawan para penguasa buruk dan korup, dan kemudian menggantinya dengan Khilafah. Sebab, Khilafah satu-satunya yang akan menegakkan Islam sebagai otoritas yang akan melindungi tanah air kaum Muslim dan agamanya; serta yang akan menancapkan rasa takut di dalam hati para musuh umat. Dan ketahuilah bahwa Allah SWT telah menjanjikan kalian kemenangan jika kalian memenuhi syarat untuk memperoleh pertolongan. Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran [3] : 139).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 18/7/2013.
http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/20/nafaits-tsamarat-jadikan-ramadhan-sebagai-bulan-kemenangan-kembali-dengan-mendirikan-negara-khilafah/

Maktab Palestina: Masjid Al-Aqsa Pada Hari Jum’at Pertama Ramadhan Gempar Dengan Dakwah Penegakan Khilafah

 
Pada hari Jum’at pertama Ramadhan, para pengemban dakwah menghiasi halaman Masjid Al-Aqsa al-Mubarak dengan ar-râyah dan al-liwâ’, serta puluhan halqah (kajian) ilmu.
Setelah selesai shalat Jum’at pertama Ramadhan di Masjid Al-Aqsa al-Mubarak, para pengemban dakwah dan para pendukung Hizbut Tahrir memecah suasana dengan pekikan takbir, yel-yel dan berbagai slogan yang membangkitkan kembali kemuliaan, dan kabar gembira bagi kaum Muslim, “hancurkan Amerika, hancurkan Prancis, hancurkan Inggris, dan taklukkan Roma, …”.
Setelah shalat, para pengajar mulai menyebar ke seluruh Masjid Al-Aqsa, di mana halqah (kajian) utama ada di luar dan di dalam masjid, di samping halqah-halqah kecil yang diadakan di pelataran masjid yang diberkati. Para pengemban dakwah mulai mengajarkan kepada masyarakat perkara-perkara agama mereka, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terutama perkara-perkara politik yang terkait dengan realitas kita saat ini.
Selama pelajaran berlangsung diwarnai dengan pekikan takbir dan yel-yel kembalinya Khilafah dan pengibaran ar-râyah pada piala yang berada di tengah Masjid Al-Aqsa; pengibaran spanduk besar di dinding Kubah ash-Shakhrah dengan bertuliskan “Khilafah adalah penegakan agama dan penyatuan kaum Muslim”; spanduk bertuliskan “Umat menginginkan penerapan al-Qur’an”; dan spanduk yang dipasang di Masjid Al-Aqsa, “Wahai kaum Muslim yang tengah melakukan revolusi, Khilafah adalah kewajiban dari Tuhan kalian, dan membangkitkan kembali kemuliaan kalian”.
Dan juga menyebar di halaman Masjid Al-Aqsa sejumlah kelompok yang mengisi semua penjuru Al-Aqsa, utara, selatan, timur dan barat. Mereka mengingatkan pada sejarah Masjid Al-Aqsa yang diberkati, di mana di dalamnya tersebar halqah-halqah (kajian) ilmu; dan mengingatkan pada sîrah (riwayat hidup) Nabi saw dan sîrah  para sahabat Rasulullah saw. Mereka mengajari masyarakat dan memahamkan mereka perkara-perkara agama.
Kerumunan orang banyak itu pun berdoa kepada Allah SWT agar berkenan mewujudkan segera keinginan kaum Muslim untuk mengangkat seorang Khalifah yang akan membebaskan Masjid Al-Aqsa yang diberkati dari kotoran Yahudi, mengembalikan kemuliaan dan keagungan Al-Aqsa, serta posisi keagamaan dan keilmiahannya.
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 12/7/2013.

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/20/maktab-palestina-masjid-al-aqsa-pada-hari-jumat-pertama-ramadhan-gempar-dengan-dakwah-penegakan-khilafah/

Rabu, 17 Juli 2013

Nafâits Tsamarât: Untuk Kaum Muslim Yang Berpuasa Karena Berharap Rahmat Allah

Wahai kaum Muslim: Allah SWT telah mengkaruniakan kepada kami dengan sebenar-benarnya keutamaan. Allah telah mempertemukan kami dengan bulan yang penuh keutamaan, yaitu bulan Ramadhan yang di dalamnya Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil); bulan yang di dalamnya pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan diikat. Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan karena dorongan iman, dan hanya berharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya sebelumnya. Untuk itu, kalian harus memuji Allah SWT, dan mensyukuri-Nya dengan amal perbuatan yang sepadan dengan nikmat-Nya.
Wahai kaum Muslim: Kami di Hizbut Tahrir menyeru kalian agar kalian memposisikan diri kalian pada posisi yang tepat. Kalian tengah dalam suasana ketaatan pada Allah dengan berpuasa di siang hari dan shalat tarawih di malam hari. Kemudian hendaklah kalian berpikir tentang realitas kalian dimana kalian hidup, apakah itu realitas yang diridhai Allah SWT, sehingga Allah ridha dengan kalian, atau realitasnya tidak diridhai-Nya?!
Hal-hal berikut ini begitu jelas bagi setiap yang memperhatikan realitas:
Sebagian besar kehidupan kalian tidak sesuai syariah Islam, dalam pemerintahan, ekonomi, politik, sosiologi, pendidikan, informasi dan lainnya. Padahal, Allah SWT telah mewajibkan kepada kalian agar kalian menjalani kehidupan sesuai syariah Islam, yang menyatu dalam peribadatan kalian kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sebaliknya Allah SWT telah mengharamkan kalian hidup di bawah konstitusi kufur dan sistemnya. Allah SWT berfirman:
)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالاً بَعِيدًا(
Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4] : 60).
Kehormatan kalian dirampas; darah seorang Muslim halal bagi setiap kaum kafir, dari Cina di timur hingga Nigeria di barat. Sedang alasan mereka hanya satu, yaitu perang melawan terorisme, bahkan perang terhadap Islam. Demi Allah, dimana karena-Nya kami berpuasa, bahwa Allah SWT benar-benar menginginkan kami sebagai satu umat tanpa kecuali, seperti satu tubuh, dimana satu sama lain saling menguatkan. Dari Nu’man bin Basyir berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kecintaan, kasih dan sayang di antara mereka, seperti satu tubuh, apabila satu anggota darinya sakit, maka menyebabkan anggota tubuh yang lain tidak bisa tidur dan deman.” (HR. Bukhari-Muslim)
Sungguh negeri-negeri kalian terpecah-belah lebih dari lima puluh keping negeri-negeri kecil. Sementara yang wajib atas kalian adalah berada dalam satu negara, sesuai sabda Rasulullah SAW:
مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ
Siapa saja yang datang pada kalian, sementara urusan kalian semuanya berada dalam satu orang penguasa (Khalifah). Kemudian orang itu ingin memecah tongkat kalian dan mencerai-beraikan jamaah (kesatuan) kalian, maka bunuhlah orang itu.” (HR. Muslim)
Rasulullah saw juga bersabda:
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخِرَ مِنْهُمَا
Apabila dibaiat dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim)
Sungguh negeri kalian tengah diduduki. Negeri kecil Yahudi merampas Palestina. Sedang Amerika dan sekutunya menginvasi Irak dan Afghanistan; Rusia menduduki Chechnya, dan Cina menduduki Turkistan Timur, dan lain-lainnya. Demi Allah yang karena-Nya kalian menegakkan shalat, Allah benar-benar telah mewajibkan kalian untuk membebaskan negeri-negeri kalian dari kekejian kaum kafir.
Wahai kaum Muslim: Sesungguhnya yang akan mengubah realitas ini hingga menjadi realitas yang diridhai oleh Allah SWT, sehingga kalian hidup kuat berkat Tuhan kalian setelah kalian lemah dan tercerai-berai, serta mulia dengan agama kalian, setelah kalian hina dan nista, adalah melakukan aktivitas serius untuk menegakkan mahkota kewajiban, Khilafah Rasyidah kedua. Inilah satu-satunya yang mampu mengubah hidup kalian seratus delapan puluh derajat hingga hidup kalian menjadi kehidupan yang sesuai syariah Islam; di dalamnya kaum Muslim bersatu di bawah satu bendera Khalifah yang memerintah berdasarkan Kitabullah (al-Qur’an), melindungi kehormatan rakyat yang Muslim dan non-Muslim, serta mengerahkan semua potensi umat untuk membebaskan negeri-negeri mereka, dan mereka meridhai Tuhan mereka yang telah menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, juga memobilisasi tentara untuk mengeluarkan umat manusia dari kezaliman kaum kafir menuju cahaya Islam.
Wahai kaum Muslim: Kami dengan semua ini dan secara keseluruhan mengingatkan kalian terhadap mahkota kewajiban, dan dosanya berdiam dirinya. Untuk itu perlihatkan kepada Allah kebaikan yang dilakukan oleh diri kalian sendiri. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang tidak mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah di bulan yang mulia ini.

http://hizbut-tahrir.or.id/2013/07/16/nafaits-tsamarat-untuk-kaum-muslim-yang-berpuasa-karena-berharap-rahmat-allah/